Edisi No:051/LDNU/III/03/2026
Khutbah I
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ ,الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ". وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلى اٰلِه وَأَصْحَابِه وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
وَقَال اَيْضًا : يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِه وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pada hari yang mulia ini, marilah kita panjatkan segala puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. Dialah yang masih memberi kita nikmat iman, Islam, ihsan dan kesehatan, juga kesempatan untuk beribadah pada hari Jumat di bulan Ramadhan yang mulia ini.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan ini, khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya, dan umumnya kepada jamaah semua, mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa kita akan mendapatkan keberkahan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Tak terasa, sudah hampir satu pekan kita melewati momentum Idul Fitri yang penuh dengnan keberkahan. Beragam cara merayakan hari kemenangan tersebut, namun yang tak lepas dari itu semua Adalah agenda silaturahmi dengan sanak saudara, family, kerabat bahkan rekan kerja. Semoga itu semua menjadi penyempurna ibadah puasa yang telah kita lakukan sebulan penuh di bulan Ramdhan.
Pada kesempatan ini, Khatib akan mengulas sedikit tentang pentingnya menyambung silaturahmi.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (nama-Nya) kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan.” (QS. An-Nisa: 1)
Dari ayat tersebut kita belajar, bahwa silaturahmi tidak lepas dari wujud pelaksanaan sikap taqwa seorang hamba, dan Allah juga memerintahkan agar manusia selalu memelihara silaturrahmi antara keluarga dengan membuat kebaikan dan kebajikan yang merupakan salah satu sarana pengikat silaturrahmi. Diantara kebaikan-kebaikan itu bisa berupa saling mengunjungi, saling memberi hadiah (kue lebaran, bingkisan dan pemberian uang THR) kepada keluarga dan lainnya.
Dalam ayat lain Allah berfirman:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)
Silaturahmi mengajarkan kita pentingnya kepedulian dan berbagi. Kita merelakan waktu, tenaga dan biaya untuk datang mengunjungi orang yang mau kita kunjungi. Kita turunkan ego kita, dan rela melupakan kepentingan diri sendiri untuk menyambung silaturahmi. Tidak seperti yang dugambarkan Allah dalam FirmanNya di QS Muhammad:22 tersebut yang menyebutkan orang-orang yang mementingkan diri sendiri, enggan menyambung persaudaraana, bahkan merusak hubungan kekeluargaan dikarenakan telah berhasil secara karir dan jabatan yang mentereng apalagi menjadi penguasa.
Karenanya silaturahmi sangat penting di lakukan, apalagi oleh seorang penguasa, pemimpin sebuah negeri, maupun instansi dan keluarga. Guna mengikis sifat munafiq dalam diri kita. Bahkan saking pentingnya menyambung silaturahim, keimanan kitapun dipertaruhkan.
Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari No. 6138)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Beberapa keutamaan dari Menyambung Silaturahmi sebagaimana yang digambarkan dalam sabda Rasulullah Saw:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 5986)
Dari hadis ini, Hikmah silaturahmi Adalah Mendatangkan keberkahan rezeki , Memanjangkan umur (dalam makna hakiki atau keberkahan hidup), Mendatangkan kasih sayang dalam keluarga, dan Menjaga persatuan umat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah memberikan ancaman bagi kita yang memutus silaturahmi. KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Qonun Asasi nya juga mengutip hadist Nabi Muhammad Saw yang melarang memutus tali silaturahmi.
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِوَقَاطِعُ الرَّحِمِ وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ وَمَنْ مَاتَ مُدْمِنَ الْخَمْرِ سَقَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا مِنْ نَهْرِالْغُوْطَةِ قِيْلَ وَمَانَهْرُ الْغُوَطَةِ ؟ قَالَ: نَهْرٌ يَجْرِىْ مِنْ فُرُوْجِ الْمُوْمِسَاتِ يُؤْذِىْ أَهْلَ النَّارِرِيْحُ فُرُوْجِهِمْ
“Rasulullah Saw bersabda: tiga golongan tidak akan masuk surga. Orang yang kecanduan minum khamar, orang yang memutuskan tali persaudaraan, orang yang membenarkan sihir,”
KH. Hasyim Asy’ari menegaskan tidak ada satupun dosa yang lebih pantas disegerakan siksanya baik di dunia maupun di akhirat kecuali orang yang durhaka, pemutus tali silaturahim, khianat dan bohong. Sebaliknya, pahala yang disegerakan adalah menyambung silaturahim.
Dalam hadis lain, Nabi Bersabda:
الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ، وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ
“Rahim (silaturahmi) itu bergantung di Arsy, ia berkata: ‘Barang siapa menyambungku, Allah akan menyambungnya; dan barang siapa memutuskanku, Allah akan memutuskannya.’' (HR. Shahih Bukhari No. 5989, Shahih Muslim No. 2555)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada beberapa Pandangan dari Ulama 4 Mazhab mengenai silaturahmi:
1. Mazhab Syafi’i
Dalam Fathul Mu’in: Menyambung silaturahmi hukumnya wajib, sesuai kemampuan, baik dengan harta, kunjungan, maupun ucapan.
2. Mazhab Hanafi
Menurut ulama Hanafi: Silaturahmi adalah kewajiban yang jika ditinggalkan termasuk dosa besar, terutama kepada kerabat dekat (dzawil arham).
3. Mazhab Maliki
Imam Malik memandang:Memutus silaturahmi termasuk dosa besar, dan menyambungnya adalah bagian dari akhlak utama yang diperintahkan syariat.
4. Mazhab Hanbali
Dalam pandangan Hanbali: Silaturahmi wajib sesuai kemampuan, bahkan kepada kerabat yang menyakiti, tetap dianjurkan untuk disambung.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada Pesan Penting di Momentum Idul Fitri saat ini, yaitu Idul Fitri bukan hanya saling memaafkan di lisan atau di Group Whatsapp saja, tetapi kita ikhtiarkan untuk bisa Mengunjungi keluarga, guru-guru kita, dan saudara. Selain itu ada yang lebih penting yang harus kita lakukan yaitu Menghapus luka dan dendam di hati, lalu memulai kembali hubungan yang retak. Inilah makna sejati dari taqabbalallahu minna wa minkum.
Mari kita jadikan momentum Idul Fitri ini sebagai titik balik untuk: Menjadi pribadi yang pemaaf, Menjadi penyambung, bukan pemutus hubungan, dan menjaga ukhuwah Islamiyah.
Semoga kita semua Allah persatukan dalam ikatan silaturahmi, kebaikan dan keselamatan.
اللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ
“Ya Allah, satukan hati kami, perbaiki hubungan kami, dan tunjukkan kami jalan keselamatan.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ .وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
*(Penulis: Ust. Ilman,M.Sos. Ketua LDNU Kota Bekasi)