Perkuat Kaderisasi Nasional, Fatayat NU Jabar Cetak 23 Penggerak dan Konsolidasikan Zona Strategis

Perkuat Kaderisasi Nasional, Fatayat NU Jabar Cetak 23 Penggerak dan Konsolidasikan Zona Strategis

Bandung, 5 April 2026 — Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama Jawa Barat menegaskan langkah strategisnya dalam memperkuat sistem kaderisasi melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) yang digelar pada 4–5 April 2026 di Aula PWNU Jawa Barat, Bandung. Kegiatan ini tidak hanya mencetak fasilitator, tetapi menyiapkan 23 penggerak kaderisasi yang akan menjadi ujung tombak transformasi organisasi di berbagai wilayah strategis Jawa Barat.

Ketua PW Fatayat NU Jawa Barat, Hj. Minyatul Ummah, S.Pd.I., M.A, menegaskan bahwa kaderisasi merupakan fondasi utama keberlanjutan organisasi.

“Kaderisasi adalah jantung organisasi. Jika kaderisasi lemah, maka organisasi akan kehilangan arah. ToT ini kami desain untuk melahirkan fasilitator yang bukan hanya mampu mengajar, tetapi mampu menggerakkan, menghidupkan nilai, dan menjadi motor perubahan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti oleh kader terpilih dari berbagai cabang di Jawa Barat yang telah menyelesaikan jenjang Latihan Kader Dasar (LKD) dan Latihan Kader Lanjutan (LKL). Para peserta dibekali kemampuan fasilitasi, metodologi pelatihan partisipatif, serta penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sebagai landasan gerakan.

Ketua I PW Fatayat NU Jawa Barat, Dr. Ani Ramayanti, M.Pd, menekankan bahwa ToT ini menjadi langkah konkret dalam menjawab tantangan ketimpangan kualitas kaderisasi antarwilayah.

“Selama ini kita menghadapi variasi kualitas kaderisasi di lapangan. ToT ini menjadi intervensi strategis untuk menyatukan standar, memperkuat metodologi, dan memastikan kaderisasi berjalan lebih sistematis, terukur, dan berdampak nyata,” tegasnya.

Penguatan kualitas ToT ini juga ditopang langsung oleh kehadiran fasilitator tingkat pusat, yakni Plt. Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU, Dewi Winarti, M.Pd, serta Ketua Lembaga Percepatan Kaderisasi Fatayat NU, Dr. Alimul Muniroh, M.Ed, yang turut menjadi fasilitator utama dalam kegiatan ini. Kehadiran keduanya menjadi penegas bahwa kaderisasi Fatayat NU Jawa Barat diarahkan untuk selaras dengan standar nasional.

Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dewan Pembina PW Fatayat NU Jawa Barat, Hj. Hirni Kifa Hazefa, S.Pd., M.I.Kom., CEC., CPST., C.PTLF, serta Dewan Kehormatan PW Fatayat NU Jawa Barat, Hj. Affi Endah Navilah, M.Pd, yang memberikan penguatan arah strategis kaderisasi di tingkat wilayah.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana ToT, Sri Vidyawetti, M.Si, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai titik balik penguatan kaderisasi Fatayat NU Jawa Barat.

“Hari ini kita tidak sedang menutup pelatihan. Kita sedang membuka gerakan. Dari ruangan ini harus lahir fasilitator yang bukan hanya mengajar, tetapi mengguncang kesadaran, menghidupkan nilai, dan memastikan kaderisasi bergerak sampai ke akar rumput,” ujarnya.

Sebagai bagian dari strategi implementasi, PW Fatayat NU Jawa Barat menetapkan penguatan kaderisasi berbasis zona. Zona Bagasasi yang meliputi Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Purwakarta dipimpin oleh Sri Vidyawetti, M.Si dan diproyeksikan menjadi salah satu episentrum kaderisasi di wilayah urban.

Selain itu, penguatan kaderisasi juga dilakukan di zona lainnya, yaitu; Zona Galuh (Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Pangandaran) – PIC: Rimah Karimatul Hayah, S.Si., M.Pd. Zona Caruban (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) – PIC: Hilyatul Auliya, S.Th.I., M.Si. Zona Priangan (Bandung, Cimahi, Sumedang, Bandung Barat) – PIC: An An Aminah, M.Pd. Zona Pakuan (Bogor, Depok, Sukabumi, Cianjur) – PIC: Hj. Mustika Wiguna, S.H.I., M.Pd.I dan Nidomatul Mukhlisotur Rohmah, M.Th.I., M.PP

Dalam perannya sebagai PIC Zona Bagasasi, Sri Vidyawetti menegaskan bahwa fokus utama ke depan adalah memastikan kaderisasi berjalan nyata dan berdampak.

“Kita tidak sedang mencetak fasilitator. Kita sedang menyiapkan penggerak sejarah. Jika kaderisasi ini hidup, maka Fatayat NU akan memimpin arah perubahan. Tapi jika kaderisasi lemah, maka kita hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri,” tegasnya.

Dengan hadirnya 23 fasilitator baru ini, pelaksanaan LKD dan LKL di seluruh zona di Jawa Barat diharapkan dapat berjalan lebih masif, terstandar, dan berkelanjutan. Pendekatan pelatihan partisipatif yang diterapkan juga diyakini mampu melahirkan kader perempuan yang tidak hanya kuat secara ideologis, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan dan kepekaan sosial yang tinggi.

PW Fatayat NU Jawa Barat menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang menuju standarisasi kaderisasi nasional, sekaligus memperkuat peran perempuan Nahdliyin sebagai aktor strategis dalam pembangunan sosial dan keumatan.

“Fatayat NU harus menjadi organisasi kader yang kuat, bukan hanya besar secara jumlah. Kader harus memiliki kualitas, ideologi, dan kapasitas kepemimpinan yang relevan dengan tantangan zaman,” pungkas Hj. Minyatul Ummah.

Dengan strategi berbasis zona dan penguatan fasilitator, Fatayat NU Jawa Barat optimistis mampu mempercepat lahirnya kader perempuan yang moderat, tangguh, dan berdaya saing tinggi, serta menjadikan Jawa Barat sebagai salah satu model kaderisasi Fatayat NU di tingkat nasional.

Artikel Terkait